KEPADAMU DI SANA
apa kabar? hari-hari kita lenyap tak berbekas ya? sekarang sudah akhir agustus. sehatkah dirimu? setahuku, kau sehat meski kadang-kadang kau mengeluh pusing. kubilang, kebanyakan kerja dan butuh vitamin, dan kau akan menampik dengan berbagai cara agar tak perlu meminum vitamin. kau memang payah. jangankan minum vitamin atau obat, konsumsi rokokmu setiap hari pun mengkhawatirkan.
jika aku bilang khawatir, aku benar-benar khawatir padamu. bukan sekadar basa-basi. sama seperti kalau kubilang, aku sayang padamu. itu artinya aku benar-benar sayang padamu, bukan sekadar saja.
lalu, apa yang terjadi pada kita? tahukah kau? karena aku sama sekali tak mengerti. ruang-ruang itu semakin lebar dan semakin menjarak. kau semakin jauh. semakin tak kumengerti. dan aku? aku mendapati diriku semakin egois, semakin keras kepala, dan semakin suka menyakitimu.
aku tahu, aku orang egois sedunia. dengan seenaknya, aku berbagi bahagia denganmu. menceritakan mimpi-mimpi dan doa-doa milikku tentang masa depanku kelak. tapi, aku menyekat bicara saat kau mulai menceritakan cintamu. aku hanya tak ingin melihatmu menderita, kau tahu itu? mungkin caraku salah.
lalu, apa lagi yang terjadi? karena semakin hari, aku juga semakin lelah. ternyata, aku tak cukup kuat untuk itu. aku juga terlalu sibuk dengan mimpi, doa, dan langitku sendiri. dan, kalau sudah tak mampu berpikir apa-apa lagi, kau tahu, aku akan menangis. seperti yang telah kulakukan di malam-malam beberapa bulan terakhir ini.
apakah kau benar bahagia? jika ya, mungkin benar aku yang salah. tapi, apakah bahagia itu? bukankah semua rasa dikontrol oleh hormon endorphin milik kita sendiri? yang seharusnya terhubung ke hati dan kemudian pelan-pelan kembali ke yang hakiki? kita bersama-sama saat itu bukan, menikmati pelajaran itu?
apakah benar ia sangat berharga bagimu? jika iya, aku tak lagi mampu berkata apa-apa.
dalam sesak yang akhir-akhir ini selalu menganggu, kau tahu, kan, aku akan selalu berdoa untukmu. karena aku sayang padamu. untuk apa pun. walau bagaimanapun. hanya, kadang, rasa sayangku malah keluar bersama amarah yang menyakitimu.
jika Tuhan menguji kita dengan kisah ini, aku malu, karena sepertinya aku akan kalah. maaf, jika suatu saat di titik itu, aku menyerah.
tapi tetap, rasa sayangku tak akan berujung untukmu, sayang..
Senin, 24 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar