Kamis, 04 Juni 2009

losing

lagi anteng nih, Biasanya siiihh, lagu jadi terdengar bagus di telinga, apalagi kalau bukan karena mengingatkan akan sesuatu dalam diri kita sendiri. Dan saya ga bisa ga tersenyum waktu denger lirik ini :

"Where did I go wrong? I lost a friend"
"Somewhere along in the bitterness"
"And I would have stayed up with you all night"
"Had I known how to save a life"

mengingatkan akan ketidak-dewasaan diri ini yang dulu sempet jadi lifetime problem sih

__________________________________________________

Nah, sekarang saya mau berbagi sedikit nih. Salah satu hal yang pernah paling saya takuti sepanjang hidup saya adalah kehilangan. Saat itu terjadi, entah untuk alasan apapun, pada akhirnya saya akan selalu menyalahkan diri sendiri. Lalu, pertanyaan2 seperti inipun mulai bermunculan : apa kali ini kesalahan yang saya buat? bagaimana caranya supaya semua bisa kembali seperti dulu lagi? bagaimana caranya supaya orang itu tetap ada disini? kenapa saya melakukan hal sebodoh itu?

Dan pertanyaan2 lainnya yang kalau diibaratkan seperti meneteskan jeruk nipis pada luka yang masih basah. Tidak menyembuhkan, hanya membuat lukanya tambah perih.

Satu hal yang saya tahu, kehilangan seseorang, untuk alasan apapun dan siapapun yang memulai, sakitnya selalu sama. Menjadi yang terbuang, atau menjadi orang yang membuang, pertanyaan itu selalu muncul, dimana salah saya? Dan biasanya, mau dijawab seperti apapun, bertanya pada siapapun, tetap saja tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, sekeras apapun kita menyalahkan diri sendiri, sekeras apapun kita memohon supaya tiba-tiba waktu berputar kembali hanya karena alam merasa tersentuh dengan betapa khusuknya diri kita ‘berintrospeksi’, yang sudah terjadi ya tidak akan bisa dihapus lagi. Mungkin, semua itu masih bisa diperbaiki, tapi jelas menangis, menyalahkan diri sendiri dan ‘berintrospeksi’ tidak akan mengubah apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah, tetap tersenyum dan jalani hidup seperti biasanya.

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman mengajarkan saya tentang betapa pentingnya memberitahu dunia bahwa kita cukup percaya diri dan cukup menyayangi diri sendiri untuk dapat hidup di dunia, bersama-sama manusia lainnya.

Teman saya mengajarkan, penting adanya untuk memberitahu dunia dan diri sendiri bahwa : kalau kita memang dirugikan, kita bisa dengan tegas mengusir orang tersebut jauh-jauh dari hidup kita. Atau, kalaupun kita menjadi pihak yang melakukan kesalahan fatal (dan untuk itu kita harus menjadi pihak yang terbuang), kita cukup besar hati untuk menerima bahwa, manusia baru bisa disebut manusia, karena mereka tidak sempurna, termasuk kita.

Berkali-kali berada dalam posisi kehilangan, saya belajar bahwa kadang, saat perpisahan terjadi dan kita menjadi pihak yang tersakiti, dan kita bertanya-tanya, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka kembali, hal yang mereka inginkan adalah : mengetahui bahwa atas apa yang terjadi, kau tetap merawat dirimu dengan baik, kau tetap menyayangi dirimu di atas segalanya, dan kau tetap percaya bahwa dirimu sudah melakukan yang terbaik yang dirimu bisa. Mereka tidak ingin tahu betapa kerasnya dirimu berusaha merubah diri untuk mereka, atau, dia atas semuanya, mereka tidak ingin tahu bahwa kau menyalahkan diri sendiri.

Oleh karena itu, untuk apa menyalahkan diri sendiri?

Apapun alasannya, saya rasa setiap manusia berhak untuk dimengerti dan disayangi apa adanya mereka, begitu sebaliknya. Jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas perpisahan yang terjadi, karena itu berarti ada sesuatu yang tidak bisa diterima satu sama lain.

Mungkin, memang tempat itu memang harus dikosongkan, mungkin hati itu memang harus dilukai, semua untuk meluangkan tempat untuk orang baru yang dapat mengisinya lebih baik lagi di masa depan
;)


++TYA++

Tidak ada komentar: