Jahat banget. Pemikiran yang bilang, ‘Kita hanya bisa sempurna jika ketemu dengan soulmate kita’ adalah sesuatu yang jahat. Bagaimana kita bisa tahu itu soulmate kita? Bagaimana kita bisa yakin, terhadap orang yang kita cintai bahwa dia… memang the one. Lagian, apa pula konsep “the one” itu? Konsep yang berkata kita hanya sempurna dengan orang lain, adalah konsep yang benar-benar absurd.
Unrequited love, atau cinta yang tak berbalas, rasanya adalah hal yang paling bikin ngais tanah yang bisa terjadi pada diri kita. Untuk tahu kalau cinta kita tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.
Sedangkan, perjuangan melawan cinta adalah perjuangan melawan ingatan. Bagi orang yang cintanya tak berbalas, melupakan seseorang adalah tahap yang paling krusial sekaligus paling susah untuk dilakukan. Bengong dikit, keinget dia lagi. Nyoba kenalan sama orang baru, eh inget lagi. Makanya, sekarang ada istilah “mentok” yang dipakai untuk menggambarkan orang yang gak bisa move on. Sedihnya, dan gak ada istilah “bablas”.
Kadang,
sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Tengah malem kemarin, gue dengerin lagu kenangan "ini". Gak tahu kenapa, mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, nostalgic, dan ada urgensi untuk nulis sesuatu. Ada semacam perasaan yang pengen keluar, pengen cerita, yang tidak bisa gue definisikan.
Di tengah perasaan yang menggebu-gebu, gue mulai menulis pengalaman gue yang paling menyakitkan dalam hidup: cinta yang tak berbalas.,hiyaahahahah..Huruf demi huruf merangkai kalimat merangkai paragraf, dan tanpa gue sadari… satu halaman jadi. Lalu gue menyederkan badan ke kursi. Membaca tiap huruf, dan gue tertawa sambil menggelengkan kepala. Belum pernah gue ngerasa begitu deket dengan tulisan gue, begitu rapuh, begitu lancar, seperti mengobrol dengan teman lama yang sudah lama hilang. Seperti mengobrol dengan seorang teman, yang baru pulang dari suatu tempat yang jauh.
Gue keluar kamar,
bikin kopi panas.
Lalu gue melanjutkan menulis. Satu demi satu gue tulis, dan gue menyelesaikan empat file tulisan setengah jadi. Gue baca ulang, resapi, tertawa, sedih. Udah lama gak ngebuat sebuah tulisan yang ngebuat gue berpikir kembali tentang hal-hal pahit yang gue alami dalam hidup, lalu di saat yang bersamaan, menertawakannya.
Udah lama gue gak keluar dari comfort zone gue, menceritakan sesuatu yang ngebuat gue tutup mata, lalu balik lagi ke waktu yang gue ceritakan. Memberitahu semua orang kalau hidup gue gak selalu seneng. Membuat orang paham bahwa gue punya masa-masa gelap dalam hidup gue. Bahwa, pada satu masa, gue pernah sakit hati, pernah ngerasa kehilangan, pernah ngerasa paling bodoh, paling lemah. Pernah merasakan apa yang orang-orang lain pernah rasakan. Pernah menjadi manusia.
You see, seseorang bisa menjadi lucu ketika jujur bercerita. Seseorang juga bisa menjadi menangis ketika bercerita tentang cinta. Gue pengen menulis keduanya. Gue pengen membuat sesuatu yang membuat orang tertawa dan menangis. Karena itulah inti dari hidup ini: tertawa, dan menangis.
Gue menulis, menulis, dan menulis. Sampai capek menulis, gue ngeliat ke langit-langit kamar… merenung sendirian. Di sini lah gue: ratusan kilometer dari rumah, menulis tentang seseorang yang tidak pernah gue dapatkan. Seseorang yang pernah membuat hati gue dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil yang lalu coba gue kumpulkan kembali. Yang gue coba, perlahan-lahan, bentuk kembali..untuk bisa diberikan kepada orang lain.
Kopi di cangkir putih,
habis gue teguk.
Gue melihat jam, hufh. Tidak berapa lama, gue membuang waktu dengan mengedip, tanpa berpikir apa-apa. Gue menutup laptop, lalu dengan malas tiduran di atas tempat tidur.
Sepuluh, dua puluh menit,
gue masih gak bisa tidur.
Mungkin memang benar:
kadang, sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Kamis, 11 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar