Senin, 22 Juni 2009

ugh!!

awalnya mau nulis yg "manis-manis", gara2 gangguan itu jadi ilang mood n berubah haluan..

Kadang, adakalanya saya ingin bercerita ngalor ngidul panjang lebar tentang diri saya. Ga pake dipotong, ga pake ditinggal karena ada urusan, ga pake merasa ga didengerin dan mulai ngerasa ga enak karena memonopoli pembicaraan.

Saya cuma ingin didengarkan, menceritakan hal-hal yang selama ini ga pernah saya ceritakan karena merasa kontennya terlalu pribadi, terlalu nyeleneh, terlalu emosional, cerita2 yang dapat mengubah pandangan orang lain terhadap saya yang mungkin di masa depan akan merugikan saya sendiri.

Dan kalau pada akhirnya akan merugikan, ngapain juga diceritakan? kalau masih bisa disimpan sendiri ya ga usa kasitau siapa2. ya gak sih?

Tapi tetep aja, kadang capek dan kepengen cerita tentang semua yang ada di kepala. Tentang alasan2 tindakan saya, tentang kemarahan yang saya pendam, tentang hal-hal yang menurut saya ga adil, tentang pendapat2 yang ga pernah berani diceritakan karena pasti akan bikin dahi orang yang mendengar jadi berkerut.

Mengalami kejadian ini dan itu, kayaknya makin membuat saya menjadi kian sinis kian hari, dan kadang berharap ada yang bisa datang ke hadapan saya, satuuu aja di antara sekian milyar manusia di dunia, untuk menghilangkan semua kesinisan yang ada, tapi kayaknya ga mungkin yaa :)). Untunglah masih ada blog yang bisa jadi tempat sampah :D.

Kamis, 11 Juni 2009

Jahat banget. Pemikiran yang bilang, ‘Kita hanya bisa sempurna jika ketemu dengan soulmate kita’ adalah sesuatu yang jahat. Bagaimana kita bisa tahu itu soulmate kita? Bagaimana kita bisa yakin, terhadap orang yang kita cintai bahwa dia… memang the one. Lagian, apa pula konsep “the one” itu? Konsep yang berkata kita hanya sempurna dengan orang lain, adalah konsep yang benar-benar absurd.

Unrequited love, atau cinta yang tak berbalas, rasanya adalah hal yang paling bikin ngais tanah yang bisa terjadi pada diri kita. Untuk tahu kalau cinta kita tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.

Sedangkan, perjuangan melawan cinta adalah perjuangan melawan ingatan. Bagi orang yang cintanya tak berbalas, melupakan seseorang adalah tahap yang paling krusial sekaligus paling susah untuk dilakukan. Bengong dikit, keinget dia lagi. Nyoba kenalan sama orang baru, eh inget lagi. Makanya, sekarang ada istilah “mentok” yang dipakai untuk menggambarkan orang yang gak bisa move on. Sedihnya, dan gak ada istilah “bablas”.

Kadang,
sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.

Tengah malem kemarin, gue dengerin lagu kenangan "ini". Gak tahu kenapa, mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, nostalgic, dan ada urgensi untuk nulis sesuatu. Ada semacam perasaan yang pengen keluar, pengen cerita, yang tidak bisa gue definisikan.

Di tengah perasaan yang menggebu-gebu, gue mulai menulis pengalaman gue yang paling menyakitkan dalam hidup: cinta yang tak berbalas.,hiyaahahahah..Huruf demi huruf merangkai kalimat merangkai paragraf, dan tanpa gue sadari… satu halaman jadi. Lalu gue menyederkan badan ke kursi. Membaca tiap huruf, dan gue tertawa sambil menggelengkan kepala. Belum pernah gue ngerasa begitu deket dengan tulisan gue, begitu rapuh, begitu lancar, seperti mengobrol dengan teman lama yang sudah lama hilang. Seperti mengobrol dengan seorang teman, yang baru pulang dari suatu tempat yang jauh.

Gue keluar kamar,
bikin kopi panas.

Lalu gue melanjutkan menulis. Satu demi satu gue tulis, dan gue menyelesaikan empat file tulisan setengah jadi. Gue baca ulang, resapi, tertawa, sedih. Udah lama gak ngebuat sebuah tulisan yang ngebuat gue berpikir kembali tentang hal-hal pahit yang gue alami dalam hidup, lalu di saat yang bersamaan, menertawakannya.

Udah lama gue gak keluar dari comfort zone gue, menceritakan sesuatu yang ngebuat gue tutup mata, lalu balik lagi ke waktu yang gue ceritakan. Memberitahu semua orang kalau hidup gue gak selalu seneng. Membuat orang paham bahwa gue punya masa-masa gelap dalam hidup gue. Bahwa, pada satu masa, gue pernah sakit hati, pernah ngerasa kehilangan, pernah ngerasa paling bodoh, paling lemah. Pernah merasakan apa yang orang-orang lain pernah rasakan. Pernah menjadi manusia.

You see, seseorang bisa menjadi lucu ketika jujur bercerita. Seseorang juga bisa menjadi menangis ketika bercerita tentang cinta. Gue pengen menulis keduanya. Gue pengen membuat sesuatu yang membuat orang tertawa dan menangis. Karena itulah inti dari hidup ini: tertawa, dan menangis.

Gue menulis, menulis, dan menulis. Sampai capek menulis, gue ngeliat ke langit-langit kamar… merenung sendirian. Di sini lah gue: ratusan kilometer dari rumah, menulis tentang seseorang yang tidak pernah gue dapatkan. Seseorang yang pernah membuat hati gue dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil yang lalu coba gue kumpulkan kembali. Yang gue coba, perlahan-lahan, bentuk kembali..untuk bisa diberikan kepada orang lain.

Kopi di cangkir putih,
habis gue teguk.

Gue melihat jam, hufh. Tidak berapa lama, gue membuang waktu dengan mengedip, tanpa berpikir apa-apa. Gue menutup laptop, lalu dengan malas tiduran di atas tempat tidur.

Sepuluh, dua puluh menit,
gue masih gak bisa tidur.

Mungkin memang benar:

kadang, sakit hati bisa membuat seseorang susah tidur.

Senin, 08 Juni 2009

iseng gila

gak ada kerjaan..
marii..
kita iseng..
iseng itu awal sukses, kok >:P. *halah*

udah ah. yuk dimulai….

Pernahkah anda merasa begini :

Anda baru memasuki lift, dan terjadilah hal2 berikut ini :
(1) gara2 anda lift yang tadinya cukup untuk 5-6 orang jadi cuma bisa untuk 4 orang.
(2) tiba2 ada satu orang lagi (ramping) berlari memasuki lift, terlihat buru2, mungkin telat kerja, tapi alarm-lift-sialan-tanda-lift-kelebihan-bobot pun berbunyi. Dan alarm itu (sialnya) mulai membuat orang2 lain yang juga ingin masuk lift mengurungkan niat, terdiam di luar lift. beberapa diantaranya mengeluh tertahan ‘aaahhh kok gak bisa sih, kan itu lift isinya baru 4 orang…’
(3)anda dan semua orang yang ada disana mulai menyadari ini salah siapa, agak sedikit malu, tapi males keluar dan naik tangga. masih berprinsip first come-first serve.
(4) anda berharap ada yang mencairkan suasana dengan mengatakan ‘gara2 lo sih, duuutt…’ or anything, apa ajalah, ngusir saya keluar lift juga gapapa, yang penting jangan pada diem, tetapi oh tetapi, gak ada yang berani ngomong karena semua orang dalam scene itu adalah ABG, yang notabene agak segan sama yg lebih "gede".
huahakahaahaha *gak bisa berenti ketawa,hahaha*

selanjutnya..

Anda sedang meledek seorang teman wanita bahwa dadanya kecil (maaf loh, gak maksud ngehina, cuma mengingatkan bahwa seleksi alam itu eksis). anda berharap dia melawan balik, supaya bisa berargumen, bersenda gurau, tapi dia cuma menjawab ‘iya, emang dada gue kecil’ dengan suara dan tampang datar. anda ledek2 dia berkali2, dia tetep menjawab lempeng, sampe akhirnya anda merasa gak enak sendiri dan ingin berkata menghibur ‘gak kali, gue becandaaa.. maafin yaah… dada gue aja yang kegedeaaann…’ tapi anda urungkan karena itu MENJIJIKKAAANNN…
hahahahaha *ketawa guling2*

yuk ah,lanjutkan hidup temans..
*tya yg gak pernah serius*

Jumat, 05 Juni 2009

dilanda bingung

Banyak orang yang datang silih berganti di kehidupan kita, teman sahabat pacar ato cuma sekedar lewat. Ketika ada seseorang yang hadir dan menghapuskan jejak orang yang ada di masa lalu apakah itu menjadi sah-sah saja? ketika ada orang yang datang dengan membawa kecerian dan kita gunakan sebagai pelampiasan akan hal yang tidak bisa kita dapatkan, apakah itu masih sah-sah saja?

Kebingungan melanda ketika kita tahu apa yang kita lakukan merupakan kesalahan tetapi kita tetap melakukannya dengan alsan tersebut, melampiaskan. Mungkin kita akan menjadi orang terjahat yang pernah ada tetapi satu hal yang perlu diingat setiap orang punya hati. Semua kesalahan dan kejahatan yang dilakukan hanya berakar pada satu keinginan dan kemarahan. Semua itu hanya dipakai untuk menutupi betapa lemahnya dirinya, betapa sulitnya menerima kenyataan bahwa keadaan tak berpihak. Sulit sekali menerima kenyataan bahwa kita telah kalah di permainan kita sendiri.

pfiuhfiuhh,,semangat Ty!!!

Kamis, 04 Juni 2009

kenapa?!

kenapa ya luka yang paling sakit dan dalem itu justru (terkadang) datengnya dr org yg paling kita sayang?

kenapa semakin kita menghindari seseorang, semakin dia seperti (selalu) berada di sekitar kita?

kenapa semakin kita berusaha melupakan tentang seseorang, semakin banyak yg bisa kita ingat tentang org itu?

kenapa org jatuh cinta kalau cinta itu ternyata jg hal yg membuat mereka patah hati dan terpuruk?

kenapa kadang manusia (seperti) ga bersyukur atas apa yg udh dia punya?

aaakh! banyak banget pertanyaan di kepala gw. klo diterusin, bisa2 gw bikin modul soal sndr niy. hehe


**wewewewtyatyatyawewewew**

losing

lagi anteng nih, Biasanya siiihh, lagu jadi terdengar bagus di telinga, apalagi kalau bukan karena mengingatkan akan sesuatu dalam diri kita sendiri. Dan saya ga bisa ga tersenyum waktu denger lirik ini :

"Where did I go wrong? I lost a friend"
"Somewhere along in the bitterness"
"And I would have stayed up with you all night"
"Had I known how to save a life"

mengingatkan akan ketidak-dewasaan diri ini yang dulu sempet jadi lifetime problem sih

__________________________________________________

Nah, sekarang saya mau berbagi sedikit nih. Salah satu hal yang pernah paling saya takuti sepanjang hidup saya adalah kehilangan. Saat itu terjadi, entah untuk alasan apapun, pada akhirnya saya akan selalu menyalahkan diri sendiri. Lalu, pertanyaan2 seperti inipun mulai bermunculan : apa kali ini kesalahan yang saya buat? bagaimana caranya supaya semua bisa kembali seperti dulu lagi? bagaimana caranya supaya orang itu tetap ada disini? kenapa saya melakukan hal sebodoh itu?

Dan pertanyaan2 lainnya yang kalau diibaratkan seperti meneteskan jeruk nipis pada luka yang masih basah. Tidak menyembuhkan, hanya membuat lukanya tambah perih.

Satu hal yang saya tahu, kehilangan seseorang, untuk alasan apapun dan siapapun yang memulai, sakitnya selalu sama. Menjadi yang terbuang, atau menjadi orang yang membuang, pertanyaan itu selalu muncul, dimana salah saya? Dan biasanya, mau dijawab seperti apapun, bertanya pada siapapun, tetap saja tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, sekeras apapun kita menyalahkan diri sendiri, sekeras apapun kita memohon supaya tiba-tiba waktu berputar kembali hanya karena alam merasa tersentuh dengan betapa khusuknya diri kita ‘berintrospeksi’, yang sudah terjadi ya tidak akan bisa dihapus lagi. Mungkin, semua itu masih bisa diperbaiki, tapi jelas menangis, menyalahkan diri sendiri dan ‘berintrospeksi’ tidak akan mengubah apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah, tetap tersenyum dan jalani hidup seperti biasanya.

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman mengajarkan saya tentang betapa pentingnya memberitahu dunia bahwa kita cukup percaya diri dan cukup menyayangi diri sendiri untuk dapat hidup di dunia, bersama-sama manusia lainnya.

Teman saya mengajarkan, penting adanya untuk memberitahu dunia dan diri sendiri bahwa : kalau kita memang dirugikan, kita bisa dengan tegas mengusir orang tersebut jauh-jauh dari hidup kita. Atau, kalaupun kita menjadi pihak yang melakukan kesalahan fatal (dan untuk itu kita harus menjadi pihak yang terbuang), kita cukup besar hati untuk menerima bahwa, manusia baru bisa disebut manusia, karena mereka tidak sempurna, termasuk kita.

Berkali-kali berada dalam posisi kehilangan, saya belajar bahwa kadang, saat perpisahan terjadi dan kita menjadi pihak yang tersakiti, dan kita bertanya-tanya, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka kembali, hal yang mereka inginkan adalah : mengetahui bahwa atas apa yang terjadi, kau tetap merawat dirimu dengan baik, kau tetap menyayangi dirimu di atas segalanya, dan kau tetap percaya bahwa dirimu sudah melakukan yang terbaik yang dirimu bisa. Mereka tidak ingin tahu betapa kerasnya dirimu berusaha merubah diri untuk mereka, atau, dia atas semuanya, mereka tidak ingin tahu bahwa kau menyalahkan diri sendiri.

Oleh karena itu, untuk apa menyalahkan diri sendiri?

Apapun alasannya, saya rasa setiap manusia berhak untuk dimengerti dan disayangi apa adanya mereka, begitu sebaliknya. Jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas perpisahan yang terjadi, karena itu berarti ada sesuatu yang tidak bisa diterima satu sama lain.

Mungkin, memang tempat itu memang harus dikosongkan, mungkin hati itu memang harus dilukai, semua untuk meluangkan tempat untuk orang baru yang dapat mengisinya lebih baik lagi di masa depan
;)


++TYA++