Rabu, 04 Februari 2009

menunggu bimbang berlalu

Pernahkah kalian merasa bingung, bimbang dan ragu-ragu ketika menghadapi suatu masalah? Atau memilih suatu keputusan yang penting?
Atau menunggu lahirnya solusi dari problem yang rumit?

Mencintai hidup tidaklah selalu mudah, terutama ketika gue sedang terbebani oleh berbagai masalah. Waktu gue dihadapkan pada tertundanya penyelesaian suatu masalah, rasa bimbang dan ragu muncul dalam diri. Rasa ini kerasa gak nyaman untuk dipikul, sehingga gue ingin mengusirnya, menghilangkannya, mengubahnya.
Dan dalam kepala gue, satu-satunya cara untuk mengakhiri rasa bimbang dan ragu itu adalah dengan menyelesaikan situasi yang sedang gue permasalahkan.

Namun dalam kenyataannya, situasi hidup yang gue hadapi, gak selalu bisa terselesaikan tuntas dalam waktu yang singkat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi siapnya solusi dan tuntasnya situasi. Dan, faktanya, tidak semua faktor, terutama yang berhubungan dengan orang lain, bisa kita kendalikan secara absolut.
Inilah yang kemudian menjadi lahan gembur untuk lahirnya stres. Kita ingin bebas dari stres dengan cara segera tuntas dari masalah, tapi masalah tak kunjung selesai karena ada hal-hal di luar kuasa gue yang belum bisa berubah sesuai harapan.

Persepsi gue tentang berjalannya waktu ternyata tidak pernah objektif. Gimana ini bisa dijelasin? Prinsip emas inilah kuncinya: apa pun yang kita ingin tolak, ingin ubah, ingin usir, ingin hilangkan, justru hal tersebut akan menjadi awet, langgeng dan bertahan. What you resist, persists. Sedangkan apa pun yang kita izinkan, rasakan, amati dengan hening tanpa reaksi, justru akan menjadi pudar dan tuntas.

Jadi, kalo bingung, bimbang dan ragu muncul, ingatlah prinsip emas tersebut. Membenci dan mengusir rasa gak nyaman, hanya bakal berakibat bertambahnya ‘bensin’ dari rasa tersebut sehingga semakin lama pula kita alami. Belajarlah untuk tidak menolaknya, justru amati, sadari dan rasakan.

Terkadang memang ketika gue sedang bingung, bimbang dan ragu, hal terbaik yang bisa gue lakukan adalah diam, hening dan menunggu sambil mengamati. Ketika gue mulai menerima perlunya kekacauan dalam hidup, gue mulai mempersiapkan ‘ruang’ dan ‘izin’ bagi kehadirannya.
Di situlah kedamaian mulai tersedia bagi kita semua.
Bernapaslah, nikmati proses menunggu kekacauan, dan waspadalah untuk menunggu ‘mangga’ Anda matang alami dan jatuh dengan sendirinya.


Tya yang selalu berharap,,,

Tidak ada komentar: