Selasa, 17 Februari 2009

Curhatannya Mas I(bnu)

Malam ini gue dapet telepon dari seorang sahabat lama yang sungguh lama tidak berjumpa. Cowok yang satu ini memang lain dari yang lain karena walau tampangnya lempeng jaya dan berbadan kekar bak bodyguard, hatinya selembut salju di puncak gunung Everest *halah*.

_Mas I(bnu)_

Ngobrol-ngobrol sejenak catching up secara lama tak bersua, tiba-tiba kami terjebak dalam pembicaraan tentang satu masalah cinta. Biasa deh, sesi CMM -Curhat Malem Malem- dadakan.

Masalah afeksi terhadap pasangan.
Afeksi buat gue bukan hal yang sulit ditunjukkan.
Biar aja, orang gak perlu nyinyir tentang bagaimana seharusnya gue menyayangi pasangan gue. Soalnya gue selalu berpegang pada prinsip: “If you love him, show him that you do. If the world sneers, who the fuck cares?”

Kenapa saya berpegang pada prinsip ini?
Karena dunia cuma bisa nyinyir sirik saat mereka melihat gue jatuh cinta, tapi mereka gak pernah peduli saat gue kehilangan cinta.

Oh sori, mereka peduli hanya untuk ngegosip dibelakang gue, dengan level ketulusan NOL.

Jadi, gue gak pernah merasa bersalah menunjukkan afeksi pada orang yang gue cintai.
Itu dari sisi pemberi. Bagaimana dengan menerima?
Duh jeng, gini deh. Perempuan mana sih yang gak suka dapet perhatian. Walau kadang klise anjing (”Hai cantik, udah makan?”) pasti perkataan-perkataan kayak gini bila diucapkan oleh orang yang memang disayangi sempet dalam sepersekian detik bikin hati berasa… nyuuuuuttt dan ujung-ujung bibir tertarik sedikit keatas. Gak perlu nyangkal, kita semua pernah ngalamin kok.

Dan bagaimana cara menyikapi perhatian-perhatian seperti ini? Ya diterima dengan baik saja, dan tentunya menanyakan hal serupa kepada siapapun yang bertanya: “Hai juga sayang, udah dong. Kamu?” Gak susah kan?
Gue sungguh nggak mengerti mengapa ada orang-orang yang sulit membalas afeksi. Diluar faktor pendidikan keluarga dan kultur, gue rasa memberikan tanggapan terhadap perhatian yang diberikan adalah hal yang sangat lumrah dalam kehidupan percintaan. Tanggapannya juga gak perlu semewah yang saya contohkan misalnya, cukup dengan menelepon dan bilang: “Hai, lagi apa?” itupun cukup ditujukan bagi orang yang berstatus pacar.

Beberapa hari lalu, ada temen cerita kalo ayahnya gak pernah kasih afeksi (mencium istri dan anak).

Walah… walaaah… ini baru banget buat gue. Kok bisa ya seorang ayah nggak pernah memeluk atau mencium anak-anaknya? Kalo ayah ke anak mungkin ada kali ya yang nggak pernah. Tapi kalo ke istri? MASA GAK PERNAH DICIUM SEKALIPUN? Lalu bisa bikin anak lebih dari satu itu gimana caranya ateeuuh?

Nah ini juga yang jadi pertanyaan gue melihat orang-orang yang hidup tanpa afeksi tapi beranak banyak. I mean, how do these people get romantic and eventually have sex and produce more than one offspring? Pake teknik ‘Wham Bam Thank You Ma’am?’ wah… kok gitu ya?

Dan apakah istri-istri mereka merasa cukup dengan ‘begitu’ saja tanpa ada apresiasi berupa pelukan sayang atau ciuman mesra? Apakah ini yang didalam budaya Jawa dikenal dengan sikap ‘nrimo’? Nrimo aja deh diapain juga. Udah sukur dikawin…

Begitukah?kekekeke..

Kembali ke permasalahan Mas I(bnu) yang jelas jauh lebih tidak ekstrim dibanding kerabat yang datang berkunjung kemarin itu. Gue kenal I(bnu) cukup lama untuk menilainya sebagai manusia yang baik dan perhatian, tidak hanya pada pacar tapi juga pada teman-temannya. Gentleman, gak tegaan sama perempuan dan generally memang penyayang yang tulus… apalagi sama anak kecil. Singkat kata, dia adalah salah satu pemuda yang pernah masuk kategori ISO alias Incaran Semua Orang, tapi tidak pernah songong atas fakta ini.

Akhirnya, karena gue juga bego dalam menanggapi curhatan malam hari ini, gue bilang begini…

Gue: “Gini aja deh… lower your expectations. Karena sebenernya bukan dia yang bikin lo kecewa. Tapi ekspektasi lo”

I(bnu): “Gitu ya… duh… susah ya…”

Gue: “Dan ketika menyayangi aja udah susah… well maybe you need to reconsider…”


Sedih sih, tapi menurut gue… menyayangi harusnya mudah. Disayang apalagi.

gosip,oh gosip

Gosip..oh gosip..lagi2 gosip , bisa mateng gue.

Ada apa sih dengan gosip? Apa enaknya ngomongin orang? Apa enaknya ngomongin sesuatu yang belum pasti. Kenapa mesti diomongin? Kenapa mesti dikorek2 sampe ke akar2nya tapi bukan dengan orangnya langsung? Kenapa mesti bertanya-tanya ke orang2 yang tidak mengerti dan tidak berhubungan langsung dengan gosip itu yang pada akhirnya hanya memperluas jaringan gosip?

CAPE DEH….

Emang enak ya ngomongin orang? Apalagi kejelekan dan kesalahan2nya. Berasa kita udah jauh lebih hebat dari orang yang lagi diomongin karena tidak melakukan hal-hal yang seperti orang itu lakukan.

Huh…cape lagi deh….

Gosip.

Ujung2nya menimbulkan masalah, KESALAHPAHAMAN, kekacauan, SAKIT HATI, pertengkaran, bahkan PERPECAHAN.
Bullshit dengan persahabatan, omong kosong dengan persaudaraan, nonsens dengan pertemanan kalau ternyata kita masih ngomongin temen kita sendiri, apalagi di belakangnya.

Kenapa kalo dia ngelakuin kesalahan ga diingetin dan diomongin langsung ke dia? Kenapa mesti lewat “orang lain”? Yang ujung2nya malah mensugesti dan memprovokasi orang lain untuk ikut-ikutan ngomongin dia bahkan bisa bikin jadi benci.

They don’t even know what they are talking about.

Sebenernya sih oke2 aja kalo yang diomongin yang bagus2, yang indah2, bikin kita jadi kagum n termotivasi –asal jangan jadi sirik-.

Tapi namanya juga MANUSIA BIASA, 1 kesalahan akan menghapus 10 kebaikan yang sudah dilakukan.

HOW COME????

DUNIA INI MEMANG PENUH KEPURA-PURAAN.

____Tya, sang korban____

berita gak mutu

Jadi gini ya,

Gue mau mengumumkan aja kalo gue lagi ENEG baca, nonton atau denger berita.
Sakit jiwa, masa berita gak ada yang positif sama sekali sih?

Asli bikin depresi.

Gak ada satupun berita yang nambah pengetahuan sama sekali. Yang ada malah tambah terprovokasi trus jadi nambah-nambahin dosa karena ujungnya pasti ngomongin orang.

Intinya tetep: nambah dosa.

Terus nih yang konyol ya, kalo lagi gak ada bahan negatif yang buat diberitain, pasti yang muncul tuh sejenis yang aneh-aneh. Yang kambing tanduknya tiga lah, yang kembar empat dempet lah. Apa nggak ada hal lain yang lebih menarik dan PINTER untuk diberitain?

Oh, atau mungkin emang orang Indonesia belom sepinter orang Jepang atau Jerman yang kayaknya tiap hari bisa menelurkan temuan baru. Orang Indonesia mah pinternya gosip, ngomongin orang, trus ngulang-ngulang kabar yang semua orang udah tau, terus makin diulang-ulang biar pada naik darah, bikin kerusuhan, abis itu biar ada berita baru lagi.

Kalo udah begini mending makan nasi jagung, jalan kaki kemana-mana tapi tetep nonton cable.

Badan boleh sengsara, tapi paling enggak otak tetep ada isinya.

Duh sori deh kalo ngomel-ngomel. *Eh, kenapa minta maap ya?

Blog juga blog gue sendiri deh! Yang gak suka, gak usah baca!

*panas*

Senin, 16 Februari 2009

2 kudaNIL

Hihihihihihi.Asik-asik browsing bahan keketawaan, tadi gue dapet berita dari situs online koran ini.


JAKARTA, MINGGU - Kebun Binatang Ragunan menambah kembali perbendaharaan binatangnya. Kemarin Sabtu (20/9) dini hari, induk kudanil yang diberi nama Diana melahirkan dengan sehat bayi kudanil seberat 30 kg. Kelahiran secara alami ini dipertama kali diketahui oleh perawatnya yang bernama Budi. Menurut Budi, usia kandungan Diana selama 14 bulan dihitung dari masa perkawinannya dengan induk jantan yang dia beri nama Jacky Juli 2007 lalu. "Untuk sementara Jacky kita pisahkan dulu" tuturnya pada Kompas.Com. Supaya kita bisa mengintensifkan perawatan bayi serta induknya tambahnya.

Kudanil yang mempunyai nama latin Hippopothamus Amphibious merupakan keluarga Hippopotamidae yang berasal dari Afrika. Hewan ini mempunyai habitat hidup didekat air tawar seperti danau ataupun sungai. Indukkan jantan bisa mencapai bobot 1500 - 1800 kg, sedangkan berat betinanya bisa mencapai 1300 - 1500 kg. Hewan ini termasuk herbivora yang suka hidup secara berkelompok hingga mencapai 30 ekor.


Mari, mari, kita coba menganalisa beberapa poin penting dari kabar gembira ini.
Membawa kamus arti nama dipersilakan.

gue cuman sedikit penasaran.
Apa ya alasan penamaan binatang-binatang non peliharaan kayak kuda nil ini?Kalo anjing atau kucing, oke lah dikasih nama. Dan biasanya namanya bukan nama manusia : DOGI, BLEKI, atau maap-maap kate, mentok-mentok OSCAR.Nah ini? Diana dan Jacky. Dan pemiliknya adalah dua kuda nil.Bisa jadi ini nama tetangganya Budi yang baru menikah. Atau kebetulan Budi sebenernya pengen punya nama Jacky.Atau itu adalah nama dua orang yang dibenci Budi.

...

Subyektif amat.
ATAU, yang paling masuk akal sekaligus serem untuk dibayangkan, karena waktu dipanggil Diana dan Jacky, dua kuda nil ini nengok???Beruntung banget waktu itu Budi lagi nggak coba manggil nama TYA.

Tapi kalo iya, sampailah pada kesimpulan sederhana yaitu :Jika Anda mudah ge-er atau mudah sakit hati, hindari piknik di kebun binatang. Tidaklah mustahil Anda akan sering mendengar nama Anda disebut, yang notabene adalah penjaga kandang lagi ngajak main asuhannya. Apalagi jika nama Anda adalah nama yang mendunia (baca : pasaran).

Jadi, jangan coba-coba ya.
Bener deh.
What you don't know won't hurt you.
HOHOHOHOHOHO.

that'a a mistake!

Berikut adalah potongan dialog pertengkaran antara Ted dan Lily dari serial "HOW I MET YOUR MOTHER" Season 1 Eps 21 “Milk” (tenang gak spoiler) :

Ted : No, it’s not an adventure. It’s a mistake!.

Lily : Okay yes, it’s a mistake. I know it’s a mistake. But there are certain things in life where you’re know it’s a mistake, but you don’t really know it’s a mistake. Because the only way to know it’s a mistake is to make the mistake, and look back, and say “Yep. That was a mistake.”. So, really, the bigger mistake would be to not make the mistake, because then you go for your whole life not really knowing if something is a mistake or not. And damn it, I’ve made no mistakes!. I’ve done all of this, my life, my relationship, my career, mistake-free!. Does any of this makes sense to you?

Ted : I don’t know. You said “mistake” a lot.


ini adalah salah satu dari dialog favorit gue, dan menurut gue, kata-kata Lily di sini sangat inspiratif, tidakkah begitu? :D. Ada kalanya dalam hidup kita takut melangkah, takut mengambil keputusan, tidak tahu mana yang terbaik bagi kita. Ada kalanya juga, kita tahu bahwa keputusan kita 99% salah, namun tetap saja tak bisa melepaskan kemungkinan 1% bahwa keputusan kita itu benar. Saat itu terjadi, mungkin quote ini bisa jadi pegangan, supaya kita jauh lebih berani dalam mengambil keputusan dan menghadapi apapun resikonya.


living life bravely, pembaca . Lily Aldrin sudah menjelaskan kenapa kalian harus melakukannya .


maybe, it’s a mistake i have to make ,
TyaNdut

Jumat, 13 Februari 2009

yaudahlahya

yaudahlahya,

terbukti yang gue anggep terbaik kebanyakan malah bawa bencana.

-_-

dinikmatin aja stressnya,

___Tya___

Selasa, 10 Februari 2009

hadiah cinta paling bermakna

hmm, sist, jawaban pertanyaan kamu tadi bakal aku jawab di blog aja deh..
panjang kl harus ngejelasin lewat y!m, kamu kan kadang2 lemot,huehueehe

ya, apa ya hadiah yang harus gue kasih ke dia buat nunjukkin rasa cinta gue??

Dalam pengalaman hubungan pribadi yang gue alami langsung, maupun dalam kehidupan orang lain yang gue amati, ada dua hadiah cinta yang tak ternilai maknanya, dan kalo diberikan dengan seimbang, maka biasanya hubungan tersebut cenderung sehat.

Hadiah cinta ini berlaku baik pada hubungan cinta, persahabatan, keluarga dan bentuk hubungan pribadi apapun. Hadiah tersebut adalah perhatian (attention) dan ruang (space).

Terlalu banyak perhatian, tanpa diimbangi dengan kebebasan bagi pasangan untuk hidup dan bertumbuh, akan terasa sempit, dan hubungan tersebut akan perlahan berubah menjadi kontes adu kuat, siapa yang lebih sering menang, kalah, unggul atau mengalah

Contoh paling umum adalah hubungan yang cenderung terlalu overprotective antara orang tua dengan anak, atau terlalu banyak pembatasan dan kesepakatan dalam sebuah hubungan cinta.

Sebaliknya, terlalu banyak kebebasan dan ruang gerak, tanpa diiringi dengan perhatian, seringkali berarti ketidakpedulian.

Bagaikan hidup saling memunggungi, relasi kayak ini juga hidup dengan bom waktu. Hampir gak bisa dihindari, bahwa kita memiliki saat-saat tertentu di mana kita pengen diperhatiin, dan juga saat-saat lain di mana kita pengen bebas untuk bertumbuh ke arah manapun alam membimbing.

mmhh itu yang bisa gue kasih, sist..
mudah-mudahan bisa jadi masukan yg berguna,ciacieee..

____________

coklat cinta

Seiring bulan cinta Februari ini, bisakah kita bersama menemukan pelajaran cinta dalam sepotong cokelat?

Pernahkah kalian menikmati sepotong dark chocolate, dan merasakan beragam nuansa yang bisa terasa dalam setiap kunyahan, serta berbagai perasaan hati yang muncul dari pengalaman tersebut? Perhatikan bagaimana awalnya bongkahan cokelat tersebut terasa keras lalu setelah digigit atau dikunyah mulai terasa lembut dan meleleh dalam mulut kalian? Keras dan lembut, padat dan meleleh, merupakan spektrum pengalaman yang sangat nyata, kan?

Bukankah semua pengalaman di atas juga merupakan rasa yang sama dalam berbagai pengalaman cinta dalam hidup kita?

Siapa yang gak pernah merasakan aspek keras dan lembutnya cinta? Ketika dua pribadi bertemu, membawa pengalaman hidup dan ego masing-masing, terkadang interaksinya penuh kelembutan antara satu sama lain, sehingga bagai terhanyut dalam cinta. Dan juga sebaliknya, ketika kedua pihak sedang bersikeras mempertahankan posisinya sehingga terbersit rasa sesal: mengapa kita harus jatuh cinta dengan orang ini?

Siapa yang gak pernah merasakan kesendirian, dan rasa ingin untuk berada dalam sebuah hubungan kasih, lalu mendapatkannya serta menikmatinya, lalu kehilangan pertalian cinta tersebut, disisipi dengan rasa tidak ingin berhubungan dengan orang lain lagi, tapi tidak lama kemudian berada lagi dalam sebuah hubungan cinta yang baru? Bisakah kalian memahami rentang rasa hati yang sama, antara menikmati sepotong dark chocolate dengan kehidupan cinta?

Inilah yang gue sebut realitas. Memahami kehidupan dari kedua sisinya secara menyeluruh. Realistis artinya memahami dan menerima realitas bahwa selalu ada dua sisi ini. Senang dan susah, untung dan sial, dipuji dan dihina, bertemu dan berpisah, mendapat dan melepas, merupakan dualitas hidup yang tidak bisa dihindarkan maupun dicegah, apapun caranya, bagaimanapun upayanya.

Buat gue, pelajaran tentang cinta adalah suatu perjalanan yang merupakan bagian penting bagi kematangan diri dan evolusi.

Hidup ini memang tidak bisa lepas dari dualitas. Baik sepotong dark chocolate, maupun berbagi kasih dengan siapapun, kita tidak punya pilihan untuk hanya mengalami salah satu sisi saja. Selamat bertumbuh dalam kehidupan cinta, dan selamat Hari Kasih Sayang.
____________________________________________________________________

I love you and also myself, but most importantly I love whatever life offers me in this moment. Enjoy your wonderful piece of dark chocolate.

Rabu, 04 Februari 2009

menunggu bimbang berlalu

Pernahkah kalian merasa bingung, bimbang dan ragu-ragu ketika menghadapi suatu masalah? Atau memilih suatu keputusan yang penting?
Atau menunggu lahirnya solusi dari problem yang rumit?

Mencintai hidup tidaklah selalu mudah, terutama ketika gue sedang terbebani oleh berbagai masalah. Waktu gue dihadapkan pada tertundanya penyelesaian suatu masalah, rasa bimbang dan ragu muncul dalam diri. Rasa ini kerasa gak nyaman untuk dipikul, sehingga gue ingin mengusirnya, menghilangkannya, mengubahnya.
Dan dalam kepala gue, satu-satunya cara untuk mengakhiri rasa bimbang dan ragu itu adalah dengan menyelesaikan situasi yang sedang gue permasalahkan.

Namun dalam kenyataannya, situasi hidup yang gue hadapi, gak selalu bisa terselesaikan tuntas dalam waktu yang singkat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi siapnya solusi dan tuntasnya situasi. Dan, faktanya, tidak semua faktor, terutama yang berhubungan dengan orang lain, bisa kita kendalikan secara absolut.
Inilah yang kemudian menjadi lahan gembur untuk lahirnya stres. Kita ingin bebas dari stres dengan cara segera tuntas dari masalah, tapi masalah tak kunjung selesai karena ada hal-hal di luar kuasa gue yang belum bisa berubah sesuai harapan.

Persepsi gue tentang berjalannya waktu ternyata tidak pernah objektif. Gimana ini bisa dijelasin? Prinsip emas inilah kuncinya: apa pun yang kita ingin tolak, ingin ubah, ingin usir, ingin hilangkan, justru hal tersebut akan menjadi awet, langgeng dan bertahan. What you resist, persists. Sedangkan apa pun yang kita izinkan, rasakan, amati dengan hening tanpa reaksi, justru akan menjadi pudar dan tuntas.

Jadi, kalo bingung, bimbang dan ragu muncul, ingatlah prinsip emas tersebut. Membenci dan mengusir rasa gak nyaman, hanya bakal berakibat bertambahnya ‘bensin’ dari rasa tersebut sehingga semakin lama pula kita alami. Belajarlah untuk tidak menolaknya, justru amati, sadari dan rasakan.

Terkadang memang ketika gue sedang bingung, bimbang dan ragu, hal terbaik yang bisa gue lakukan adalah diam, hening dan menunggu sambil mengamati. Ketika gue mulai menerima perlunya kekacauan dalam hidup, gue mulai mempersiapkan ‘ruang’ dan ‘izin’ bagi kehadirannya.
Di situlah kedamaian mulai tersedia bagi kita semua.
Bernapaslah, nikmati proses menunggu kekacauan, dan waspadalah untuk menunggu ‘mangga’ Anda matang alami dan jatuh dengan sendirinya.


Tya yang selalu berharap,,,