_Mas I(bnu)_
Ngobrol-ngobrol sejenak catching up secara lama tak bersua, tiba-tiba kami terjebak dalam pembicaraan tentang satu masalah cinta. Biasa deh, sesi CMM -Curhat Malem Malem- dadakan.
Masalah afeksi terhadap pasangan.
Afeksi buat gue bukan hal yang sulit ditunjukkan.
Biar aja, orang gak perlu nyinyir tentang bagaimana seharusnya gue menyayangi pasangan gue. Soalnya gue selalu berpegang pada prinsip: “If you love him, show him that you do. If the world sneers, who the fuck cares?”
Kenapa saya berpegang pada prinsip ini?
Karena dunia cuma bisa nyinyir sirik saat mereka melihat gue jatuh cinta, tapi mereka gak pernah peduli saat gue kehilangan cinta.
Oh sori, mereka peduli hanya untuk ngegosip dibelakang gue, dengan level ketulusan NOL.
Jadi, gue gak pernah merasa bersalah menunjukkan afeksi pada orang yang gue cintai.
Itu dari sisi pemberi. Bagaimana dengan menerima?
Duh jeng, gini deh. Perempuan mana sih yang gak suka dapet perhatian. Walau kadang klise anjing (”Hai cantik, udah makan?”) pasti perkataan-perkataan kayak gini bila diucapkan oleh orang yang memang disayangi sempet dalam sepersekian detik bikin hati berasa… nyuuuuuttt dan ujung-ujung bibir tertarik sedikit keatas. Gak perlu nyangkal, kita semua pernah ngalamin kok.
Dan bagaimana cara menyikapi perhatian-perhatian seperti ini? Ya diterima dengan baik saja, dan tentunya menanyakan hal serupa kepada siapapun yang bertanya: “Hai juga sayang, udah dong. Kamu?” Gak susah kan?
Gue sungguh nggak mengerti mengapa ada orang-orang yang sulit membalas afeksi. Diluar faktor pendidikan keluarga dan kultur, gue rasa memberikan tanggapan terhadap perhatian yang diberikan adalah hal yang sangat lumrah dalam kehidupan percintaan. Tanggapannya juga gak perlu semewah yang saya contohkan misalnya, cukup dengan menelepon dan bilang: “Hai, lagi apa?” itupun cukup ditujukan bagi orang yang berstatus pacar.
Beberapa hari lalu, ada temen cerita kalo ayahnya gak pernah kasih afeksi (mencium istri dan anak).
Walah… walaaah… ini baru banget buat gue. Kok bisa ya seorang ayah nggak pernah memeluk atau mencium anak-anaknya? Kalo ayah ke anak mungkin ada kali ya yang nggak pernah. Tapi kalo ke istri? MASA GAK PERNAH DICIUM SEKALIPUN? Lalu bisa bikin anak lebih dari satu itu gimana caranya ateeuuh?
Nah ini juga yang jadi pertanyaan gue melihat orang-orang yang hidup tanpa afeksi tapi beranak banyak. I mean, how do these people get romantic and eventually have sex and produce more than one offspring? Pake teknik ‘Wham Bam Thank You Ma’am?’ wah… kok gitu ya?
Dan apakah istri-istri mereka merasa cukup dengan ‘begitu’ saja tanpa ada apresiasi berupa pelukan sayang atau ciuman mesra? Apakah ini yang didalam budaya Jawa dikenal dengan sikap ‘nrimo’? Nrimo aja deh diapain juga. Udah sukur dikawin…
Begitukah?kekekeke..
Kembali ke permasalahan Mas I(bnu) yang jelas jauh lebih tidak ekstrim dibanding kerabat yang datang berkunjung kemarin itu. Gue kenal I(bnu) cukup lama untuk menilainya sebagai manusia yang baik dan perhatian, tidak hanya pada pacar tapi juga pada teman-temannya. Gentleman, gak tegaan sama perempuan dan generally memang penyayang yang tulus… apalagi sama anak kecil. Singkat kata, dia adalah salah satu pemuda yang pernah masuk kategori ISO alias Incaran Semua Orang, tapi tidak pernah songong atas fakta ini.
Akhirnya, karena gue juga bego dalam menanggapi curhatan malam hari ini, gue bilang begini…
Gue: “Gini aja deh… lower your expectations. Karena sebenernya bukan dia yang bikin lo kecewa. Tapi ekspektasi lo”
I(bnu): “Gitu ya… duh… susah ya…”
Gue: “Dan ketika menyayangi aja udah susah… well maybe you need to reconsider…”
Sedih sih, tapi menurut gue… menyayangi harusnya mudah. Disayang apalagi.