Setelah mengeluarkan uneg2 di postingan sebelumnya, meracau2 emosional, nangis2 bombay sepuasnya, mengeluarkan kebusukan2 yang ada di kepala, akhirnya ide menulis gue muncul lagi.
Rupanya dari kemaren itu, ide mampet gara2 ada yang dipikirin dan gak diungkapkan, toh :). Ternyata isi otak gue persis selang ya, sekali ada yang mampet, ya untuk seterusnya, gak ada yang bisa dikeluarin, dan kalo dibiarin lama2 mampet, bisa2 pecah, efeknya jadi berkali2 lipat deh. Payah nih, hahaha.
Sori ya pembaca, blogger juga manusia, gak selamanya seneng2 aja :D.
Sudah2, mari kita mulai membahas yang serius. hehehe.
Kalian pernah melarikan diri dari masalah?
Saya pernah. Bahkan saat ini saya sedang melarikan diri dari banyak masalah. Dari yang besar, yang kecil, saya berusaha menekankan pada diri saya sendiri, menit ini dan menit berikutnya, bahwa saya sedang dalam state bebas masalah.
Caranya? Bisa macem2. Tergantung mood dan ketersediaan hiburan saja. Kalo gak nonton film, nyanyi2 heboh di kamar, atau pilihan terburuk sekaligus terampuh : tidur dan makan. (Sial nih yang terakhir merusak banget -_-. hahaha)
Dari kecil hingga dewasa, saya selalu mendengar nasehat senada, jangan pernah melarikan diri dari masalah, hadapi dengan berani dan selesaikan. Tapi menurut saya, kadang, melarikan diri dari masalah itu merupakan pilihan yang terbaik, dengan syarat, kita mencari pelarian yang benar dan tahu kapan harus kembali ke kenyataan untuk menyelesaikannya.
Kalau misalnya semua masalah yang terjadi bisa diibaratkan kayak pertanyaan di tugas Sejarah waktu jaman sekolah, pasti enak banget ya. Ada pertanyaan, cari jawaban dari buku teks , nyontek2, selesai deh. Wih, gak akan ada keriput atau jerawat.
Tapi sayang, menyelesaikan masalah kadang bisa diibaratkan seperti memasak, kita harus kumpulkan semua bahan yang dibutuhkan, memastikan semuanya dalam kondisi yang bagus, melakukannya dengan benar, untuk menghasilkan masakan yang kita inginkan. Satu saja ada bahan yang kurang, atau busuk, atau ada tahapan memasak yang tidak dilakukan dengan benar, kacaulah acara masak memasak kita.
Begitu pula dengan masalah, kadang, ada bahan yang tidak kita miliki untuk menyelesaikannya. Entah itu kesabaran, pengertian, simpati, kepercayaan diri, dan masih banyak lagi. Dan dimana tepatnya kita bisa mencari bahan2 tersebut? tidak ada yang bisa memberitahu dengan pasti. Tak bisa dipinjam, tak bisa dibeli. Seringkali, bahan2 tersebut datang dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman.
Kalau bahan2 belum lengkap, tahapan masak belum ketahuan, gimana mau memasak dengan benar? :).
Gak ada cara lain selain mem-pending-nya kan?. Simpan semua bahan di dalam hati dan otak, bina hubungan baik dengan orang2 yang terkait (kalau masalahnya dengan orang lain), jangan menutup diri untuk seterusnya hanya gara2 masalah ini, cari kesibukan lain, dan lihatlah, dalam hitungan tahun, bahkan bulan, kita sudah cukup bekal untuk berjuang kembali.
Dan percayalah, saat waktu kita untuk menyelesaikannya tiba, kita akan terkejut dengan kenyataan bahwa kali ini, kita bisa melakukannya dengan sangat baik, dan terheran2 kenapa dulu terasa begitu sulit di hati. hahahaha.
(yeah, well. ngomong memang gampang. prakteknya yang susah. mumpung lagi waras, saya omongin aja lah ya, lumayan bisa buat ngingetin)
__________________________
TYA yang MASIH gundah gulana,hueheueehue
Jumat, 19 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
ternyata..hidup ini indah ya...
Posting Komentar